×

blog/jadi-acara-tahunan-warga-jakarta-bagaimana-sejarah-prj-062023

Jadi Acara Tahunan Warga Jakarta, Bagaimana Sejarah PRJ?

05 Jun 2023

Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair bakal kembali digelar pada 14 Juni 2023 mendatang. Sebagaimana diketahui, acara tahunan ini digelar sebagai rangkaian hari ulang tahun Ibu Kota Jakarta yang jatuh setiap 22 Juni.

PRJ bakal menghadirkan rangkaian event besar-besaran seperti biasanya, mulai dari konser musik, pameran kesenian, hiburan, hingga pameran produk dari para pelaku usaha UMKM. Rencananya acara ini akan berlangsung dari 14 Juni hingga 16 Juli mendatang.

Baca juga: Nggak Perlu Repot Ke Bengkel, Ini Cara Mudah Ganti Oli Mobil Sendiri

Lantas, bagaimana sejarah PRJ ini terjadi serta mengapa dijuluki sebagai hajatan terbesar di Asia Tenggara? Berikut penjelasannya.

 

Sejarah singkat

PRJ merupakan hajatan tahunan yang dilakukan di Ibu Kota Jakarta. Meskipun bertajuk “pekan”, namun hajatan ini tidak berlangsung sepekan, lho. Melainkan selama sebulan penuh menyambut hari jadi Jakarta.

Adapun PRJ pertama kali diadakan pada 5 Juni - 20 Juli 1968 di kawasan Monas, Jakarta. Semangat diadakannya hajatan ini diusung oleh Syamsudin Mangan, yang lebih dikenal sebagai Haji Mangan.

Baca juga: Resmi, Motor dan Mobil Listrik Bebas PKB dan BBNKB Mulai Tahun Ini

Haji Mangan saat itu merupakan Ketua KADIN (Kamar Dagang dan Industri) yang ingin mengadakan acara pameran besar di Jakarta. Dia ingin meningkatkan produksi dalam negeri yang sempat terguncang pasca kejadian G30S PKI.

 

Terinspirasi Pasar Gambir

Gayung bersambut. Ide cemerlang itu disetujui oleh Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Kebetulan, Bang Ali, sapaannya, memang menginginkan diadakannya acara mewah serupa dengan Pasar Gambir.

Pasar Gambir merupakan gelaran pasar malam terbesar di masa kolonial Hindia Belanda. Acara ini digelar di kawasan Gambir pada 31 Agustus setiap tahunnya bersamaan dengan. penobatan Ratu Wilhelmina.

Di sini, paviliun-paviliun ditata dengan megah dan penuh dengan keberagaman. Menggambarkan kekayaan budaya dari berbagai bangsa di tanah Hindia kala itu.

Baca juga: Rolls-Royce Boat Tail jadi Mobil Termahal di Dunia 2023, Ini Alasannya!

Pasar ini juga menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat Batavia. Keberadaannya dijadikan sebuah ruang publik di mana seluruh masyarakat bisa berinteraksi dan berbaur.

Selain sebagai ruang publik, keberadaan Pasar Gambir juga ditujukan buat memamerkan perkembangan teknologi saat itu. Pameran ini juga dijadikan tempat untuk memperkenalkan beragam produk industri Hindia Belanda.

Sayang Pasar Gambir mesti dihentikan untuk selama-lamanya setelah pecahnya perang dunia kedua. Impian Bang Ali untuk merasakan kemegahan acara itu pun kandas untuk selama-lamanya.

Baca juga: All New Toyota Rush Dikabarkan Meluncur November 2023, Segini Perkiraan Harganya

Oleh karena itu, Bang Ali menerima tawaran Haji Mangan untuk mengadakan PRJ. Dia lantas menggabungkan pasar-pasar hiburan di Jakarta agar bisa menyaingi kemeriahan Pasar Gambir melalui PRJ.

Lantas, untuk pertama kalinya acara ini pun digelar dengan nama Djakarta Fair (DF) pada 5 Juni 1968. Peresmiannya dibuka langsung oleh Presiden Soeharto dengan pelepasan burung merpati pos secara simbolis.

 

Sukses besar

PRJ pertama yang digelar di kawasan Monas ini sukses besar. Hajatan ini mampu membuat pengunjung berbondong-bondong menghadiri acara tersebut. Diperkirakan tidak kurang dari 1,4 juta orang mendatangi acara tersebut.

Baca juga: Ada Uji Emisi Gratis di Jakarta, Catat Tanggal dan Lokasinya

Untuk mengesahkan acara tersebut, Pemerintah DKI kemudian mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) no. 8 tahun 1968. Di dalamnya terdapat poin yang menetapkan bahwa PRJ akan menjadi agenda tetap tahunan dan  menjelang Hari Ulang Tahun Jakarta yang dirayakan setiap tanggal 22 Juni.

Setahun kemudian, atau pada 1969, acara ini kembali digelar. Tak kalah heboh, PRJ tahun itu memecahkan rekor penyelenggaran terlama hingga 71 hari lamanya. Biasanya hanya digelar 30 hingga 35 hari.

Saking meriahnya, Presiden AS pada waktu itu Richard Nixon yang datang ke Indonesia, menyempatkan diri untuk hadir di acara tersebut.

Baca juga: Ada Uji Emisi Gratis di Jakarta, Catat Tanggal dan Lokasinya

Terlihat sang presiden mampir di sebuah stan dekat Syamsuddin Mangan Plaza sambil melambaikan tangan kepada pengunjung dan sejumlah karyawan di sana.

 

Pindah ke Kemayoran

Penyelenggaraan PRJ makin sukses setiap tahunnya. Pengunjungnya pun kian membludak, baik dalam maupun luar negeri.

Selama 1968-1991, PRJ identik dengan Kawasan Monas yang berdiri di atas lahan seluas tujuh hektar. Karena tak lagi mampu menampung banyaknya pengunjung di sana, PRJ akhirnya resmi pindah ke kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat pada 1992.

Baca juga: Ford Rilis Teaser Mobil Baru, Diduga Ford Ranger

Di sana lokasinya jauh lebih luas. Terdapat area seluas 44 hektar yang disediakan untuk menampilkan beragam produk dalam negeri dengan skala kecil, menengah, hingga besar.

Hajatan ini diharapkan mampu membangkitkan semangat promosi produk dalam negeri dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan adanya PRJ, diharapkan pula terbukanya lapangan kerja baru.

 

Transformasi

Seiring dengan perkembangan Jakarta sebagai pusat perdagangan dan industri, PRJ juga mengalami transformasi yang signifikan.

Baca juga: Lebih dari 30 Merk Mobil dan Motor akan Ramaikan GIIAS 2023, Ada Apa Saja?

Mulai dari sektor perdagangan, industri, perbankan, hingga sektor pariwisata, makanan dan minuman, otomotif, fashion, dan hiburan semuanya terlibat dalam PRJ.

Acara ini menjadi ajang bagi pelaku usaha untuk mempromosikan produk dan layanan mereka kepada pengunjung yang datang dari berbagai latar belakang budaya.

Tidak hanya menjadi tempat pameran, PRJ juga menawarkan berbagai kegiatan menarik yang melibatkan masyarakat luas. Konser musik, pertunjukan seni, lomba, pesta kuliner, dan acara hiburan lainnya menjadi bagian tak terpisahkan dari PRJ.

Baca juga: Review dan Harga Suzuki S-Presso, Compact City Car Rasa SUV

Sebagai acara yang telah melewati beberapa dekade, PRJ terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Penggunaan teknologi, kehadiran booth interaktif, dan kegiatan berbasis digital semakin melengkapi pengalaman pengunjung dalam PRJ.

Namun tentunya tetap ada keaslian dan tradisi dalam PRJ yang membuatnya menjadi daya tarik bagi pengunjung dari berbagai kalangan.

Alhasil, PRJ telah menjadi salah satu acara ikonik yang tidak hanya merayakan kemajuan dan potensi ekonomi Jakarta, tetapi juga memperkaya budaya dan kehidupan masyarakatnya. Jadi, jangan sampai melewatkan keseruan PRJ tahun ini, ya!

Bandingkan Mobil (0)

Berhasil ditambahkan 0 Mobil

Tambahkan 1 mobil lagi untuk membandingkan